Oleh: senyumkukarenamu | 24 Juni 2011

belajar tajwid…

  1. A.  Hukum Mim Bertasydid dan Nun Bertasydid (Ghunnah)

Hukum nun tasydid dan mim tasydid adalah wajib dibaca ghunnah (الْغُنَّةُ) yaitu dengan membunyikan sambil mendengung. Adapun lama mendengungnya selama dua ketukan atau satu alif. Lama ketukan itu disesuaikan dengan irama lagu yang dibaca oleh pembaca

Contoh:

No

Huruf

Tertulis

Dibaca

Sebab

1

نّ

جَنَّةٌ

جَنْنَتُنْ

Nun ditasydid

2

نّ

اَلنَّاسْ

اَنْنَاسْ

Nun ditasydid

3

مّ

ثُمَّ

ثُمَّ

Mim ditasydid

4

مّ

مِمَّا

مِمْمَا

Mim ditasydid

 

  1. B.  Hukum Nun Mati dan Tanwin
    1. 1.      Pengertian Nun Mati dan Tanwin

Nun Sākinah ialah nun yang tidak berbaris atau lebih dikenali sebagai nunmati. Nun Sākinah adalah suara yang keluar dari pangkal hidung (khaisyum) dania akan mengeluarkan suara dengung atau sifat ghunnah sebagai suatu ciri yangmesti ada pada nun Sākinah ini.

Tanwin ialah baris dua sama ada baris dua di atas (fathatain), baris dua dibawah (kasratain) atau baris dua di hadapan (dhommatain). Tanwin adalahsuatu yang bernun yaitu baris yang mengeluarkan suara nun Sākinah secaratidak langsung (zaidah) walaupun nun tersebut tidak kelihatan.

  1. 2.      Hukum Nun Mati dan Tanwin
    1. a.      Bacaan Idgham

Menurut Muhammad Mahmud, idgham dalam arti bahasa berarti: ادخال الشئ فى الشئyaitu “Memasukkan sesuatu pada sesuatu”. Artinya disini adalah memasukkan huruf nun mati pada huruf idgham. Sedang dalam arti istilah berarti:

الادغام هو التقاء حرف ساكن بمتحرِّك بحيث يصيران حرفا مشددا

Pertemuan huruf yang mati dengan huruf yang hidup, sehingga kedua huruf itu menjadi satu huruf yang ditasydid”.[1]

Adapun huruf-huruf idgham ada 6yang berkumpul pada rumusيرملون , sehingga jika ada nun mati atau tanwin bertemu salah satu keenam huruf tersebut, maka nun mati atau tanwin tersebut harus dimasukkan padanya. Keenam huruf itu ada yang dibaca mendengung dan ada yang tidak, karena itu idgham dibagi menjadi dua macam:

1)      Idgham Bighunnah (ادغام بغنّة)

Yaitu membunyikan nun mat atau tanwin dengan memasukkan pada huruf idgham bighunnah yaitu ينمو(ya’, nun, mim, wawu)  disertai mendengung, dengan syarat antara nun mati atau tanwin tersebut terpisah dengan huruf idgham bighunnah sebelumnya.

Contoh:

مَنْ يَقُوْلُ                 بَرْقٌ يَجْعَلُوْنَ              عَنْ نَفْسٍ                  حِطَّةٌ نَغْفِرْلَكُمْ

 مِنْ مَالٍ                  يَوْمَئِذٍ وَاهِيَة

Jika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf idgham bighunnah dalam satu kalimat(tidak terpisah) maka membacanya terang (Izhar). Ulama’ tajwid menyebutnya Izhar Kilmi atau Izhar wajib.

Contoh:

صِنْوَانُ                   قِنْوَانٌ                     بُنْيَانٌ                      دُنْيَا

2)      Idgham Bilaghunnah (ادغام بلاغنّة)

Cara membaca nun mati atau tanwin dengan memasukkan pada huruf idgham bilaghunnah yaitu lam dan ra’ tanpa mendengung.

Contoh:

مِنْ لَدُنْهُ                    رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

مِنْ رَبِّهِمْ                 رَؤُفٌ رَحِيْمُ

  1. b.      Bacaan Iqlab

Menurut Muhammah Mahmud, iqlab dalam arti bahasa adalah:  تحويل الشئ عن وجههyaitu “Mengubah bentuk sesuatu dari asalnya”. Dalam arti mengubah huruf nun mati atau tanwin pada huruf iqlab. Sedangkan menurut istilah adalah:

الاقلاب هو جعل حرف مكان حرف آخر مع مراعاة الغنة

Menjadikan huruf satu pada ketentuan huruf lain disertai mendengung”.[2]

Pada pengertian di atas jelas bahwa nun mati atau tanwin ketika bertemu denganhuruf iqlab maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca sebagaimana bacaan iqlab disertai mendengung.

Adapun huruf iqlab hanya ada satu yaitu: ب. maka apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ba’ maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca mim(م) karena bacaan iqlab.

Contoh:

عَلِيْمٌ بِذَاتِ                                             اَنْبِئْهُمْ

  1. c.       Bacaan Ikhfa’

Menurut Muhammad mahmud, ikhfa’ dalam arti bahasa adalah: اَلسَّتْرُ., menutupi atau menyembunyikan. Sedangkan menurut istilah adalah:

الاِخْفَاءُ هُوَ عِبَارَةٌ عَنِ النُّطْقِ بِحَفٍ سَاكِنٍ عَارٍ ايْ خَالٍ عَنِ التَّشْدِيْدِ عَلَى صِفَةٍ بَيْنَ الْاِظْهَارِ وَالْاِدْغَامِ مَعَ بَقَاءِ الْغُنَّةِ فِى الْحَرْفِ.

“Ikhfa’ adalah pengungkapan huruf yang mati dan tersembunyi atau sunyi dari tasydid pada bacaan antara terang dan memasukkan dengan mendengungkan pada huruf pertama”.[3]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bacaan ikhfa’ itu bacaan yang samar-samar antara izhar (terang) dengan idgham (memasukkan pada yang lain) disertai mendengung.

Huruf ikhfa’ ada 15 yang terkumpul pada  awal bait;

صف ذا ثنا كم جاد شخص قدسما  دم طيبا زد في تقى ضع ظالما

 

 

Dari kelima belas huruf ikhfa’di atas terdapat 3 klasifikasi, yaitu:

1)      Ikhfa’ A’la (اخفاء اعلى) yaitu bacaan ikhfa’ yang lebih lama dari ghunnahnya. Adapun hurufnya ada tiga, yaitu:ت, د, ط

Contoh:           مِنْ دُوْنِ                                         مِنْ طَيِّبَاتِ

2)      Ikhfa’ Adna (اخفاء ادنى) yaitu bacaan ikhfa’ yang lebih pendek dari ghunnahnya, sedang hurufnya adalah: ق, ك

Contoh:           مَنْ كَانَ                                       مِنْ قَبْلُ

3)      Ikhfa’ Ausath (اخفاء اوسط) yaitu antara bacaan ikhfa’ dengan ghunnah sama-sama sedang. Hurufnya selain dari ikhfa’ a’la dan adna.

Contoh:           اَنْفُسَكُمْ                                                  اَنْزَلْنَاهُ

  1. d.      Bacaan Izhar

Dari sudut bahasa: Menyatakan, menerangkan sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid: Mengeluarkan sebutan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) tanpa dengung

  1. Lughot/Bahasa : Jelas
  2. Istilah Ahli Tajwid: Melapalkan/membaca dengan jelas dengungnya dan tidak panjang bacaannya ketika bertemu nun mati atau tanwin dengan beberapa huruf idhar.

Pembagian Idhar:

1)    Izhar Halqi( الإظهار الحلقي).

Dari sudut bahasa: Menyatakan, menerangkan sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid: Mengeluarkan sebutan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) tanpa dengung. Ia dinamakan Halqi kerana enam hurufnya keluar dari kerongkong. Huruf-huruf tersebut ialah: Hamzah( أ ), Ha'( هـ ), ‘Ain( ع ), Ha'( ح), Ghain( غ )dan Kha'( خ ).[4]

2)   Izhar Mutlaq( الإظهار المطلق ).

Dari sudut bahasa: Menyatakan, menerangkan sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid: Mengeluarkan sebutan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) tanpa dengung. Ia dinamakan Mutlaq ialah kerana makhrajnya bukan dari tekak atau mulut. Izhar Mutlaq dibaca apabila huruf Ya’ atau Wau terdapat selepas Nun Sukun di dalam satu kalimah. Ia terdapat pada empat tempat sahaja di dalam al-Quran yaitu:قنوان – صنوان – بنيان – الدنيا

 

  1. C.  Hukum Mim Mati (Sakinah)

Huruf mim mati apabila bertemu salah satu dari huruf hijaiyah, maka mempunyai tiga dampak hukum, yaitu:

  1. 1.      Ikhfa’ Syafawi(اخفاء شفوي)

Ikhfa’ berarti samar-samar, sedang syafawi berarti bibir. Jadi, ikhfa’ syafawi adalah cara membunyikan huruf secara samar-samar antara yang terang(izhar) dan berdengung(idgham) sambil bibir tertutup.

Huruf ikhfa’ syafawi hanya: ب, karena itu jika ada mim sukun bertemu denganhuruf ba’ maka disebut bacaan ikhfa’ syafawi.[5]

Contoh:

دَخَلْتُمْ بِهِنَّ                                              اِعْتَصِمْ بِاللّهِ

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ                              وَهُمْ بِالْاَخِرَةِ

  1. 2.      Idgham Mitslain (ادغام مثلين)

Idgham berarti memasukkan, sedang mitslain adalah sama, atau hurufnya sama. Karena itu idgham mitslain berarti cara membunyikan huruf dengan memasukkan huruf tertentu pada huruf sepadan dengannya. Idgham mitslain disebut juga Idgham Mimi (ادغام ميمي).[6]

Adapun huruf idgham mitslain adalah:م   , yaitu huruf yang sepadan (sama) dengan mim.

Contoh:

وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ                                          كَمْ مِنْ فِئَةٍ

اَفَرَاَيْتُمْ مَا تُمْنُوْنَ                                                 لَهُمْ مَثَلاً

  1. 3.      Izhar Syafawi (اظهار شفوي)

Izhar artinya terang, sedang syafawi artinya bibir. Jadi yang dimaksud izhar syafawi adalah cara membunyikan huruf secara terang sambil bibir tertutup.

Huruf-huruf izhar syafawi adalah semua huruf hijaiyah kecuali mim dan ba’. Maka apabila ada mim mati bertemu salah satu dari huruf hijaiyah selain mim dan ba’ harus dibaca izhar syafawi.

Contoh:

No

Contoh

Sebab

1

أَنْعَمْتَ

مْbertemu ت

2

عَلَيْهِمْ غَيْرِ

مْbertemuغ

3

وَهُمْ رَاجِعُوْنَ

مْ bertemu        ر

4

لَهُمْ فِيْهَا

مْbertemu             ف

 

  1. D.  Hukum Tafkhim dan Tarqiq

Tafkhim (تَفْخِيْم) merupakan masdar dari fakhkhama (فَخَّمَ) yang berarti menebalkan. Sedang yang dimaksud dengan bacaan tafkhim adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tebal. Jadi, bacaan tafkhimadalah menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan (mencucu)

Tarqiq (تَرْقِيْقٌ)Merupakan bentuk masdar dari Roqqoqo (رَقَّقَ) yang berarti menipiskan. Sedang yang dimaksud dengan bacaan tarqiq adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tipis.[7]

  1. 1.        Bacaan Tafkhim

Huruf hijaiyah yang wajib dibaca tafkhim terdapat 7 huruf, yaitu huruf isti’la’ yang berkumpul pada kalimat  خُصَّ ضَغْطٍ قِطْ, kesemuanya harus dibaca tebal.

Contoh:

أُدْخُلُوْهَا, وَالْصَّآفَّاتِ, غَاسِقٍ, فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ, وَالطَّيِّبُوْنَ, فَالْحَقُّ اَقُوْلُ, اِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ

          Selain ketujuh huruf tersebut harus dibaca tarqiq, kecuali huruf lam dan ra’ yang mempunyai ketentuan sendiri.

Pertama , huruf lam dibaca tafkhim jika berada dalam lafal jalalah yakni lam yang terdapat pada lafal: dengan syarat agar lam itu didahului tanda baca fathah atau dhammah.

Contoh:

صَلاَةُ الَّلهِ                           سَلاَمُ الَّلهِ

          Kedua, ra’ wajib dibaca tafkhim (tebal) apabila:

  1. Ra’ bertanda baca fathah. Contoh:

رَحْمَةَ الَّلهِ             الْفُقَرَآءَ

  1. Ra’ bertanda baca dhammah.Contoh:

كَفَرُوْا                           رُفِعَتْ

  1. Ra’ bertanda sukun (mati), sedang huruf dibelakangnya berupa huruf yang difathah. Contoh:

مَرْحَبًا                           قَرْيَةٍ

  1. Ra’ bertanda sukun, sedang huruf dibelakangnya berupa huruf yang didhammah. Contoh:

حُرْمَةً                           عُرْيَانًا

  1. Ra’ yang bertanda baca sukun, sedang huruf dibelakangnya berupa huruf yag dikasrah, namun kasrah ini bukan asli tetapi baru datang. Contoh:

اِرْجِعِيْ                         اِرْحَمْ

  1. Ra’ bertanda baca sukun, sedang huruf di belakangnya berharakat kasrah asli dan sesudah ra’ bertemu dengan huruf isti’la’. Contoh:

يَرْضَاهُ                          فُرْقَةً             قِرْطَاسٍ

  1. 2.        Bacaan Tarqiq

Pertama, huruf lam dibaca tarqiq (tipis), jika huruf lam itu berada dalam lam jalalah yang didahului huruf yang bertanda baca kasrah. Contoh:

الْحَمْدُ لِّلهِ                            مِنْ عِنْدِ الَّلهِ

          Kedua, ra’ wajib dibaca tarqiq (tipis) jika:

  1. Huruf ra’ bertanda baca kasrah. Contoh:

مَعْرِفَةٌ                      رِجْسٌ

  1. Huruf ra’ yang bertanda baca hidup yang jatuh setelah ya’ mati atau huruf lien. Contoh:

اَلْكَبِيْرُ            مِنْ خَيْرٍ

  1. Huruf ra’ mati dan sebelumnya ada huruf yang berharakat kasrah asli, sedang sesudah ra’ bukan huruf isti’la’. Contoh:

شِرْكٌ             فِرْعَوْنُ

  1. E.  Hukum Qalqalah

Yang termasuk huruf qalqalah yaitu:ق   ط   ب   ج   د

Apabila huruf qalqalah tersebut mati atau pada huruf qalqalah itu membaca berhenti maka huruf itudiucapkan seraya menambahkan semacam pantulan bunyi dari huruf itu sendiri di akhir pengucapan.

Qalqalah ada dua yaitu, Qalqalah Sughraa dan Qalqalah Qubraa.

Pada  Qalqalah Sughraa huruf qalqalah itu memang mati (mati asli). Contoh:

وَمَا أَدْرَاكَ                                    أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ

Pada Qalqalah Qubraa huruf qalqalah itu menjadi mati karena membaca berhenti padahurufitu. Di sini pemantulan bunyi dilahirkan lebih jelas lagi. Contoh:

لا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ

  1. F.  Hukum Bacaan Idgham

Sebagaimana pada hokum nun mati dan tanwin, maka yang dimaksud dengan idgham adalah memasukkan sesuatu pada sesuatu. Atau pengucapan dua huruf menjadi satu yakni seperti dua huruf yang ditasydid.

Sebagaimana dijelaskan ulama Qurra’ secara ijmak, bahwa idgham dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Idgham mutamatsilain
  2. Idgham mutajanisain
  3. Idgham mutaqaribain

Untuk lebih jelasnya, ketiga bagian tersebut dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

  1. 1.        Idgham Mutamatsilain

Idgham mutamatsilain dalam arti bahasa adalah idgham yang sepadan atau serupa. Sedangkan menurut istilah adalah:

ادغام المتما ثلين ان يتفق الحرفان صفة ومخرجا

“Idgham yangterjadi bila dua hurufnya itu sama-sama makhraj maupun sifatnya.”

Idgham mutamatsilain adalah pertemuan dua huruf yang sama, sama dalam arti bentuknya sehingga sama pula makhraj dan sifatnya. Idgham mutamatsilain dibagi menjadi dua bagian:

 

  1. a.         Idgham Mutamatsilain Kubra, Idgham Mutamatsilain yang besar, sedang menurut istilah yaitu:

ان تحرك كلاهما

“Jika kedua hurufnya dihidupkan.”

Contoh:

اَلرَّحِيْمِ ماَلِكِ                 رَجَعَ عَلَيْناَ                     مَنَا سِكَكُمْ                    وَطُبِعَ عَلَي قُلُوْبِهِمْ

  1. b.         Idgham Mutamatsilain  Sughra, Idgham Mutamatsilain yang kecil, menurut istilah yaitu:

ان سكن احدهما

“Jika salah satu diantara kedua hurufnya dimatikan.”[8]

بَلْ لاَيََخَافُوْنَ    قَدْ دَخَلُوْا                        تَوَلَّوْا وَهُمْ          رَبِحَتْ تِجاَرَتُهُمْ

            Namun, tidak semua huruf hijaiyah yang sama makhraj dan sifat bertemu menjadi idgham, ada juga yang rus dibaca idhar yaitu bertemunya huruf ي dengan يdan وdenganو, kedua huruf itu walaupun sepadan, tetapi tidak boleh diidghamkan karena jika diidghamkan berarti menghilangkan panjang (mad)nya. Karena keduanya termasuk huruf mad. Contoh:

اِصْبِرُواوَصَابِرُوْا                       فِي يَوْمٍ              اَمَنُوْاوَالتَّقَوْا       اَمَنُوْا وَعَمِلُوْا

  1. 2.        Idgham Mutajanisain

Idgham Mutajanisain dalam arti bahasa berarti idghom yang sejenis. Namun menurut istilah adalah:

هو مااتخد مخرجا واختلف صفة

“Idgham yang terjadi bila hurufnya sama-sama makhrajnya, tetapi berbeda sifatnya.”

Misalnya:

  1. Huruf طdenganت; sama-sama makhraj lisan, tetapi sifatnya berbeda. Tha’ jahar, sedang ta’ Mahmus; Tha’ Isti’la’, sedang ta’ Istifal; tha’ Ithlaq, sedang ta’ Infitah.
  2. Huruf ظdenganذ; sama-sama makhraj lisan, tetapi sifat zha’ pada isti’la’, sedang dzal istifal. Zha Ithbaq, sedang dzal Infitah.
  3. Huruf ذdenganت; sama-sama makhraj lisan, tetapi dzal sifatnya jahar, sedang ta’ mahmuz, dzal Rakhawah sedang ta’ Syiddah.[9]

Kondisi demikian itu mewajibkan idghom, yaitu huruf pertama dimasukkan pada huruf kedua, sehingga seakan-akan menjadi satu huruf yang ditasydid.

Idgham Mutajanisain dibagi menjadi dua:

  1. a.         Idgham Mutajanisain Kubra

ان تحرك كلاهما

“Jika kedua hurufnya dihidupkan.”

Contohnya:    وَلْتَأْتِ طَا ئِفَةٌ, يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

  1. b.         Idgham Mutajanisain Sughra,

ان سكن احدهما

“Jika salah satu diantara kedua hurufnya dimatikan.”

Contohnya:

اُخِيْبَتْدَعْوَتُكُمَا, اَمَنَتْ طَائِفَةٌ

  1. 3.      Idgham Mutaqaribain

Idgham Mutaqaribain dalam arti bahasa berarti idgham yang berdekatan, sedang menurut istilah:

“Idgham yang berdekatan hurufnya, baik makhraj maupun sifatnya.”

Idgham mutaqaribain merupakan idgham yang tidak sama makhraj dan sifatnya, hanya saja huruf yang diidghamkan berdekatan makhraj dan sifatnya, sehingga cara membacanya huruf pertama harus dimasukkan pada huruf kedua, sehingga seakan-akan menjadi satu huruf yang ditasydid. Misalnya:

  • Hurufق  denganك ; keduanya berbeda makhraj dan sifatnya, walaupun berdekatan. Makhraj Qaf pada pangkal lidah dekat anak lidah dengan langit-langit yang lurus diatasnya. Sedangkan Kaf pada pangkal lidah dengan langit-langit yang lurus diatasnya, yang agak sedikit keluar dari makhraj Qaf. Karena itu, dua huruf tersebut berdekatan makhrajnya. Sedangkan sifat Qaf, pada jahar dan Kaf pada mahmus. Qaf Isti’la’, sedang Kaf Istifal, keduanya sama dalam sifat syiddah, Infitah dan Ishmat. Karena itu, Qaf dengan Kaf berdekatan makhraj dan sifatnya.

Idgham mutaqaribain juga dibagi 2:

  1. a.    Idgham Mutaqaribain Kubra,

ان تحرك كلاهما

“Jika kedua hurufnya dihidupkan.”

 

 

Contohnya:

مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ, وَاِذَاالنُّفُوْسُ زُوِّجَتْ

  1. b.    Idgham Mutaqaribain Sughra,

ان سكن احدهما

“Jika salah satu diantara kedua hurufnya dimatikan.”[10]

Contohnya:

قَدْ سَمِعَ, يَلْهَثْ ذَلِكَ

 

G. Hukum Mad dan Qashar

  1. 1.        Bacaan Mad
  2. a.      Pengertian Mad

Mad dalam arti bahasa ialah “ziyadah” yang  berarti “tambah”.  Sedangkan menurut istilah ahli qira’at ialah “membaca sebuah huruf panjang lebih dari satu alif”.

Qashar menurut bahasa ialah “menahan”. Menurut istilah ahli qira’at ialah “membaca huruf panjang tidak lebih dari astu alif”.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa antara mad dan qashar adalah pembeda antara huruf yang dibaca panjang lebih dari satu alif (2 harakat) dan huruf yang dibaca dengan panjang tidak lebih dari satu alif.

  1. b.    Huruf-Huruf Mad

Huruf mad yang dipanjangkan ada 3 macam, yaitu:

1)      Huruf wawu ( و) mati yang jatuh setelah huruf yang yang berharakat dhommah. Contoh:  جَعَلُوْا , ذَكَرُوْا , ظَلَمُوْا

2)      Huruf ya’ ( ي ) mati yang jatuh setelah huruf yang berharakat kasrah.

Contoh:  فِيْهَا, فِيْمَا, خَبِيْرُ

3)      Huruf alif ( ا) mati yang jatuh setelah harakat fathah.

Contoh:

اَلزَّكاَ ةَ, الصِّياَ مُ, الصَّلَاَةُ

Maka apabila ada huruf hijaiyah yang disrtai huruf-huruf mad tersebut, harus dibaca panjang. Sedangkan panjangnya, disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

  1. c.    Panjang  Bacaan Mad

1)      Panjang yang pendek ( القصر), yaitu cara membaca huruf mad sepanjang 1 alif (2 harakat/ketukan)

2)      Panjang yang tengah-tengah (سطالتو(, yaitu cara membaca huruf mad sepanjang 1 ½ alif (3 harakat/ketukan)

3)      Panjang yang panjang (الطول), yaitu cara membaca huruf mad sepanjang 2 ½ alif (5 harakat) atau 3 alif (6 harakat).

  1. d.    Pembagian Mad

Mad dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

  • Mad Thabi’i (mad asli)

Mad Thabi’i menurut arti bahasa ialah mad yang masih asli, yakni panjang bacaanya tetap 1 alif (2 harakat atau ketukan).

Sedangkan menurut istilah ialah “keadaan mad itu sebagaimana mestinya”. Maksudnya ialah panjang bacaan mad tidak melebihi panjang semula (1 alif), sebab tidak dimasuki hamzah dan sukun yang dapat mmenambah panjang bacaan semula.

Setiap ada alif yang jatuh setelah harakat fathah, ya’ yang jatuh setelah harakat kasrah, dan wawu yang jatuh setelah harakat dhommah, maka dihukumi mad Thabi’i (wajib dibaca panjang 1 alif).

Contoh:رَ, تَزِيْدُ, كَا نُوْا صَا

Mad Thabi’i (mad asli) dibagi menjadi 2, yaitu:

v  Mad Asli Dhazhiry

Yaitu mad asli yang jelas berikut bacaanya. Seperti halnya contoh bacaan mad diatas.

v  Mad Asli Muqaddar

Yaitu mad asli yang huruf madnya tidak jelas, namun bacaanya sepanjang mad asli. Mad ini ditandai adanya fathah tegak, kasrah tegak dan dhommah terbalik.

 

 

  • Mad Far’i

Mad far’i menurut bahas ialah mad cabang. Sedangkan menurut istilah ialah mad yang melebihi mad asli, sebab ada hamzah dan sukun.

Mad far’i harus dibaca lebih dari 1 alif (2 harakat). Ketentuan ini berlaku karena setelah huruf mad terdapat hamzah atau sukun, sehingga cara membacanya melebihi semestinya.

Panjang mad far’i tersebut menimbulkan perselisihan mengenai panjang sebenarnya dan apakah harus bertemu hamzah atau sukun.

Oleh karena perselisihan tersebut, maka mad far’i terbagi menjadi 13 macam, yaitu:

1)      Mad Wajib Muttashil

Mad Wajib artinya wajib dibaca panjang, sedangkan Muttashil artinya bersambung. Jadi Mad wajib muttashil adalah wajib dibaca panjang karena ada huruf mad dalam satu kalimat dengan hamzah.

هو ان يكون المد والهمزة في كلمة واحدة

“Antara mad dan hamzah terdiri dalam satu kalimat.”

Ukuran panjang mad wajib muttashil adalah 2 ½ alif (5 ketukan). Sedang panjang pendek ketukan itu disesuaikan dengan irama bacaan yang dialunkan. Karena itu diharapkan dalam bacaannya tidak boleh melebihi ketentuan itu karena ketentuan itu sudah disepakati oleh semua ahlul Qurra’.

Contoh:

اُو لَئِكَ,جَاءَ, جِيْئَ

2)      Mad Jaiz Munfashil

Mad Jaiz artinya boleh dibaca panjang boleh tidak dari ketentuan mad asli, sedang munfashil artinya terpisah. Jadi yang dimaksud Mad Jaiz Munfashil adalah kebolehan membaca panjang karena ada huruf mad yang terpisah dua kalimat dengan hamzah.

هو ما كان حرف المد في كلمة والهمزة في كلمة اخري

“Disebut Mad Jaiz Munfashil karena huruf mad berada disatu kalimat, sedangkan hamzah berada di kalmiat lain.”[11]

Dari pengertian itu cara membaca Mad Jaiz Munfashil tidak wajib dibaca panjang sepanjang mad wajib muttashil. Karena itu terdapat 5 macam cara membacanya, yaitu:

  1. Imam Nawawi dan Imam Hamzah membacanya 3 alif (6 ketukan).
  2. Imam Ashim seorang guru dari Imam Hafsh dan Syu’bah membacanya 2 ½ alif (5 ketukan). Bacaan ini yang banyak dianut ahli Qurra’.
  3. Imam Ibnu Amer dan Imam Kisa’I membacanya 2 alif (4 ketukan).
  4. Imam Qolun dan Imam Dury membacanya 1 ½ alif (3 ketukan).
  5. Imam Ibnu Katsir dan Imam Susy membacanya 1 alif (2 ketukan).

Contoh:

بِمَااُنْزِلَ, فِي اُمِّهَا, وَالتَّبِعُوْنِى اَهْدِكُمْ

3)      Mad ‘Aridh Lissukun

Mad artinya panjang, sedangkan ‘Aridh Lissukun artinya baru karena dimatikan. Jadi, yang dimaksud dengan Mad ‘Aridh Lissukun adalah bacaan panjang karena terdapat pertemuan antara huruf mad dengan huruf yang dimatikan (sukun) setelah diwakafkan.

هو الوقف علي اخر الكلمة وكان قبل الحرف الموقوف عليه احد حروف المد الطبيعي

“Berhenti di akhir kalimat dan sebelum huruf yang dihentikan itu terdapat huruf Mad Thabi’i.”

Para ulama Qurra’ belum sepakat sepenuhnya, berapa panjang bacaan Mad ‘Aridh Lissukun ini. Sebagian ada yang membaca Qoshor dengan 1 alif, sebagian ada yang tawasuth yakni 2 alif da nada yang membaca thulun dengan 3 alif dan pendapat yajng terakhir inilah yang paling banyak digunakan oleh ahlul Qurra’.

Contoh:

تَعْلَمُوْنَ, اَلْمُسْتَقِيْمُ, وَانْهَارْ

4)      Mad Badal

`Badal artinya pengganti. Sedangkan menurut istilah:

هو ان يجتمع المدوالهمزة في كلمة لكن تتقدم الهمزة علي المد

“huruf mad dan hamzah berkumpul dalam satu kalimat akan tetapi yang hamzah tersebut lebih dahulu daripada mad.”

Ulama sepakat, panjang bacaan mad badala adalah satu alif sebagaimana mad Thabi’i. dikatakan mad badal karena mad ini sebagai pengganti dari huruf hamzah yang dibuang. Mad badal semula merupakan hamzah kemudian diganti dengan bacaan ini. Alasan penggantian itu karena ada dua hamzah dalam satu kalimat yang pertama hidup sedang yang kedua mati maka hamzah yang mati diganti mad agar membacanya tidak terlalu berat. Contoh:

امنوا, ايتاء, اوتي, اخذ

5)      Mad Iwadh

Iwadh artinya pengganti. Sedangkan yang dimaksud Mad Iwadh adalah:

هو الوقف علي التنوين المنصوب في اخر الكلمة

“Mad yang terjadi karena wakaf pada lafad yang ditanwin, dibaca nasab diakhir kalimat.”

Pada pengertian itu tampak bahwa Mad Iwadh semula berupa kalimat yang dibaca nasab kemudian diwakafkan sehingga tanwinnya diganti dengan tanda baca biasa (bukan tanwin), setelah diganti maka cara membacanya menjadi lebih panjang (mad). Sedang lama bacaannya sekitar 1 alif (2 ketukan).

Contoh:

غَفُوْرًارَحِيْمًا, بَصِيْرًا, مُبِيْناً, عَزِيْزًا

6)      Mad Lazim Mutsaqal Kalimi

Mad lazim berarti “ kelaziman untuk memanjangkan”. Sedang mutsaqal berarti “ berat”, dan kalimi berarti “satu kalimat”.

Jadi yang dimaksud dengan mad lazim mutsaqal kalimi ialah bacaan mad yang harus dipanjangkan, karena ada tasydid dalam satu kalimat.

Muhammad Mahmud merumuskan pengertian mad lazim mutsaqal kalimi sebagai berikut:

هو ان يكون بععد حرف المد حرف مشد د في كلمة واحدة

“ Mad yang terjadi stelah huruf mad, terdapat huruf ditasydid dalam satu kalimat”.

Jika ada huruf mad yang bertemu sukun (dalam hal ini tasydid), maka merupakan suatu kelaziman untuk dibaca panjang, dengan syarat antara huruf mad dengan huruf yang ditasydid berada dalam satu kalimat.

Adapun panjangnya, menurut kesepakatan Ulama’ ialah 3 alif (6 harakat/ketukan).

Contoh:اَتُحَا جُّوْنِّيْ , الضَّا لِّيْنَ , الصَّا خَّةُ

Sebagian Ulama’ (Qurro’) menyebutnya dengan mad lazim muthawwal kilmi.[12]

7)      Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi

Mukhaffaf berarti diringankan.

Sedangkan Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi ialah bacaan mad yang terjadi ketika huruf-huruf mad bertemu huruf yang mati dalam satu kalimat.

Muhammad Mahmud merumuskan sebagai berikut:

هو ان يكون بعد حرف المد حرف سا كن

“Mad yang terjadi karena setelah huruf mad ada huruf yang mati (disukun).

Panjang mad lazim mukhaffaf kalimi ialah 3 alif (6 harakat).

Contoh:  الان, محيا ي

8)      Mad Lazim Mutsaqqal Harfi

Mad lazim mutsaqal sebagaimana pengertian diatas ialah mad yang lazim dipanjangkan atau dibaca panjang dan berat.

Harfi berarti “dalam huruf”. Jadi yang dimaksud dengan mad lazim mutsaqqal harfi ialah bacaan mad yang terjadi pada huruf tertentu dipermulaan surat tertentu.

Muhammad Mahmud mermuskan sebagai berikut:

هو ان يوجد حرف في فواتح الور هجا ؤه  ثلا ثة احرف اوستها حرف مد واالثا لث سا كن

“ Mad yang ditemukan pada huruf permulaan surat dimana huruf itu mempunyai 3 bagian huruf, huruf kedua merupakan huruf mad, sedangkan huruf yang terakhir merupakan huruf yang  disukun”.

Dari pengertian tersebut, ditemukanlah syarat-syarat mad lazim mutsaqqal harfi, yaitu:

  1. Terjadi pada huruf dipermulaan surat
  2. Huruf yang dimaksud, bersifat 3 bagian huruf. Misalnya huruf  صاد maka bagian huruf itu adalah: د, ا , ص,, dimana huruf tengah merupakan mad, sedang huruf terakhir mati.
  3. Cara membacanya sepanjang 3 alif (6 harakat).

Dalam  Al-Qur’an ialah huruf-huruf yang digunakan dalam permulaan surat, yaitu:  الم, المص, الر, المر, كهيعص, طه, طسم, يس, ص, حم, ق, ن

Dan lain sebagainya yang merupakan “Mafatikhus Suwar”.

Dari mafatikhus suwar tersebut, yang mempunyai tanda panjang 6 harakat merupakan bacaan mad lazim mutsaqqal harfi.

Adapun huruf-huruf mutsaqqal harfi dalam Alqur’an ada 8 huruf, yang tegabung dalam kalimat: نقص عسلكم

Sebagian Ulama’ menyebut mad ini dengan “mad lazim musyabba’ harfi” atau “ mad lazim muthawwal harfi”.

Contoh: كهيعص,ن,ص ,حمعسق

9)      Mad Lazim Mukhaffaf Harfi

Mad Lazim Mukhaffaf Harfi ialah mad yang biasa terjadi pada huruf  yang mengawali permulaan surat, yang bersifat 2 bagian. Muhammad Mahmud merumuskan pengertian Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi sebagai berikut:

هو ما كان الحرف فيه على حرفين

“ Mad yang bertemu huruf yang bersifat dua bagian”.

Syarat-syarat mad lazim musukhaffaf harfi ialah sebagai berikut:

  1. Terjadi pada huruf dipermulaan surat
  2. Huruf tersebut bersifat dua bagian, misalnya huruf  هاyang terdiri atas ه dan ا
  3. Panjangnya 1 alif (2 harakat)

Adapun huruf-huruf mad lazim mukhaffaf harfi itu ada 5, yang terkumpul dalam lafal حي طهر

Contoh: طه حم المر

Ketiga contoh tersebut dibaca mad lazim mukhaffaf harfi sebab mad bertemu huruf sebangsa dua dalam satu kata.

Dalam Al-Qur’an, mad ini ditandai dengan “fathah tegak), pada huruf yang mengawali surat.

10)  Mad Lien/ Mad Lain

Yaitu mad yang jatuh padea huruf wawu dan ya’ yang jatuh setelah harakat fathah. Dengan kata lain, mad lain ialah fathah diikuti atau ya’ sukun bertemu huruf hidup dibaca waqaf.[13]

Sedangkan panjang mad lain ialah 1 alif (2 harakat) jika berada ditengah-tengah kalimat. Dan 2 atau 3 alif juka berada diakhir kalimat.

Contoh: خَوْفٌ , اِلَيْهِ

11)  Mad Shilah

Mad Shilah berarti mad yang sambung. Atau dengan kata lain, mad shilah adalah huruf mad tambahan yang diperkirakan setelah ha’ dhomir, yang dikira-kirakan dengan dhommah atau kasrah.

Muhammad Mahmud mermuskan pengertian mad shilah tersebut sebagai berikut:

هو حرف مد زاءد مقدر بعد الهاء الضمير وقدر بحركتين حا ل ضمه و كسره

“ Mad shilah adalah huruf tanbahan yang dikira-kirakan setelah ha’ dhomir, dan dikira-kirakan setelah harakat dhommah dan kasrah”.

Mad Shilah dibagi menjadi 2 macam:

  1. a.      Mad Shilah Qashirah

Yaitu apabila ada dhomir jatuh setelah huruf hidup dan tidak bersambung dengan kalimat sesudahnya , yang diberi al ta’rif.

Dengan kata lain, mad shilah qashirah ialah hu dan hi yang dibaca panjang.  Panjang mad shilsh qashirah ialah 1 alif, Namun ada juga yang membacanya dengan 2 alif.

Contoh:له , به

Mad qashirah tidak berlaku (dibaca qashar)  jika dhamir ha’ disambung dengan huruf didepanya yang diberi al-ta’rif.

Contoh: لَهُ السَّمَوَا تِ, لَهُ اْلاَسْماَءُ

Begitupun ketika ha’ dhamir tesebut jatuh setelah huruf mati.

Contoh:  دَخَلْتُمُوْهُ , اَوْ تُخْفُوْهُ , فَكُلُوْهُ

  1. b.      Mad Shilah Thawilah

Yaitu mad shilah (qashirah0 yang bertemu dengan huruf hamzah bentuknya alif.

Mayoritas Ulama’ Qurra’ membacanya dengan panjang 2 ½ alif (5 harakat), namun diantara mereka ada juga yang membaca qashar dengan 1 alif.

Contoh: لَه‘اَخْلَدَه’ , لَه‘اِخْوَةٌ , بِهِِ اَزْوَا جًا

12)  Mad Farq

Mad farq/mad farqu berarti mad pembeda. Dengan kata lain, mad farq ialah mad yang berfungsi sebagai pembeda antara istifham (kata tanya) dengan khabar (kabar berita). Dengan tidak adanya mad farq ini, maka orang akan menyangka hamzah istifham sebagai hamzah khabar.

Panjang bacan mad farq ialah 3 alif (6 harakat).

Contoh:

ا الذَّكَرَيْنِ , ا اللهُ

13)  Mad Tamkin

Mad tamkin ialah mad yang terjadi karena ada 2 ya’, yang satu mati sedang yang lain hidup, bertanda baca kasrah dan tasydid, ya’ yang berharakat kasrah  dan tasydid jatuh terlebih dahulu dari ya’ yang mati. Dengan kata lain, mad tamkin ialah ya’ kasrah brtasydid ytang bertemu dengan ya’ sukun. [14]

Contoh:  اُمِّيِيْنَ , النَّبِيِّيْنَ , حُيِّيْتُمْ

 

  1. 2.        Bacaan Qashar

Sebagaimana yang diterangkan diawal, bahwa bacaan qashar adalah bacaan yang dipendekan, yang semula dibaca panjang. Ada 2 tanda yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk bacaan qashar, yaitu:

  1. Shafrun Mustadir

Yaitu tanda lingkaran seperti bentuk bola yang ditulis diatas huruf atau lafadz yang diqasharkan.

  1. Shafrun Mustathil

Yaitu tanda lingkaran yang memanjang seperti bentuk telur yang ditulis diatas huruf atau lafadz yang diqasharkan.

Bacaan yang bertanda Shafrun Mustadir harus dibaca pendek, baik ketika washal maupun waqaf.

Contoh: لِشَاْ يءٍ , تَاْ يْءَسُوْا , وَمََلَاْ ءِهِ , لِيَرْبُوَاْ , سَلا َسِلاْ

Sedangkan bacaan yang bertanda Shafrun Mustathil itu mempunyai dua cara membaca, yaitu:

ü  Tetap dibaca panjang jika diwakafkan.

ü  Harus dibaca qashar, jika diwashalkan bacaanya.

Contoh:  اَنَاْ(tertulis)

اَنَا  (wakaf)

اَنَ (washal)

قَوَارِيْرَاْ = قَوَارِيْرَا =قَوَارِيْرَ

Dalam Al-Qur’an, terdapat pula bacaan qashar yang tidak memilki tanda shafrul mustadir maupun shafrul mustathil.[15]

Contoh: مِنْ نَباَئِ , يَشَاءِ اللهِ


[1]Abdul Mujib Ismail, Pedoman Ilmu Tajwid, (Surabaya: Karya Aditama, 1995), 70.

[2]Ibid.,73.

[3]Ibid.,74.

[5]Abdul Mujib Ismail, Pedoman Ilmu Tajwid, 81.

[6]Ibid.,82.

[7]Ibid.,106.

[8]Ibid., 96.

[9]Ibid., 97.

[10]Ibid.,100.

[11]Ibid.,117.

[12]Ibid.,122.

[13]Dahlan Salim zarkasyi, Pelajaran Ilmu Tajwid, (Semarang: Yayasan Pendidikan Al-Qur’an Raudhatul Mujawwidin, 1989), hlm 32.

 

[14]Ibid, 32

[15]Abdul Mujib Ismail, Pedoman Ilmu Tajwid, 133.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: