Oleh: senyumkukarenamu | 24 Juni 2011

Tafsir Al-Ikhlash

 

AL-IKHLAS

Surah Ke-112; 4 Ayat

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÊÈ

Dengan nama Allah, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

ö@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ   ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

 

Surah Al-Ikhlas (atau Surah Qulhuwallahu Ahad) merangkum rukun-rukun terpenting sebagai landasan misi (risalah) yang dibawa oleh Nabi Saw. Yaitu tiga hal: Pertama, tauhid dan tanzib bagi Allah (yakni mengesakan Allah dan tidak melekatkan kepada-Nya sifat yang sama sepenuhnya dengan sifat makhluk atau sifat yang tak layak bagi-Nya). Kedua, penetapan batasan-batasan umum bagi penilaian segala perbuatan: yang baik dan yang buruk. Yaitu yang disebut syari’ah. Ketiga, pelbagai keadaan yang menyangkut jiwa manusia setelah mati. Seperti kebangkitan kembali dan penerimaan balasan baik yang berupa pahala maupun hukuman.

Rukun pertama adalah tauhid dan tanzib, guna mengeluarkan bangsa Arab dan bangsa-bangsa lainnya dari syirk (penyekutuan) dan tasybib (menyerupakan Allah dengan sesuatu). Ini adalah inti dari semua rukun, yang pertama dan paling utama di antara rukun-rukun iman. Maka dapatlah dikatakan bahwa perintah untuk menyampaikan kandungan surah ini, dikeluarkan Allah SWT. Sebagai petunjuk pelaksanaan misi Nabi SAW.; dan untuk mengajarkan kepada manusia tentang aspek-aspek keimanan kepada Allah yang wajib mereka percayai.

Beberapa keterangan menyatakan bahwa surah ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan sebagian orang Arab kepada Nabi Saw: “Apa nasab Allah?” Namun, rasanya tidaklah perlu menunggu adanya pertanyaan seperti itu sehingga surah ini perlu diturunkan. Justru yang menjadi keperluan mereka yang sangat mendesak –sebagaimana juga keperluan seluruh alam insani- adalah pengutusan Nabi Saw. guna menyampaikan penjelasan tentang Allah Swt. –terutama kepada kaum musyrik dari bangsa Arab dan Ahlul Kitab- yang tercakup dalam satu surah pendek seperti ini, dengan susunan kalimat yang amat ringkas dan padat.

Berdasarkan hal itu, tidaklah mengherankan adanya hadits yang mneyatakan bahwa surah Al-Ikhlas seimbang dengan sepertiga Al-Qur’an. Siapa saja yang benar-benar mengerti maknanya, dan daya persepsinya mampu menangkap pelbagai syarat di dalamnya, seperti yang dapat ditangkap oleh seseorang yang memandang dengan mata hatinya yang telah tercerahkan, niscaya akan mendapati bahwa ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang membicarakan tentang tauhid dan tanzib, pada hakikatnya hanya merupakan rincian uraian dari pengertian yang dapat disimpulkan dari Surah Al-Ikhlas ini.[1]

Tafsir Ayat Pertama

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Kata (قُلْ) –artinya katakanlah-. Perintah ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga umatnya.
Dalam tafsir Al Qurthubi, mengatakan bahwa (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) maknanya adalah :

الوَاحِدُ الوِتْرُ، الَّذِي لَا شَبِيْهَ لَهُ، وَلَا نَظِيْرَ وَلَا صَاحَبَةَ، وَلَا وَلَد وَلَا شَرِيْكَ

Al Wahid Al Witr (Maha Esa), tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak memiliki istri ataupun anak, dan tidak ada sekutu baginya.[2]

Dalam tafsir juz amma:

Ayat  uqèd@è%  katakan, “itulah…” Yakni informasi yang kebenarannya sudah pasti, dan yang didukung oleh bukti rasional yang tak ada sedikitpun keraguan padanya, bahwa  î‰ymr&  ª!$# Allah adalah Esa. Kata Ahad berarti sesuatu yang tunggal dalam zatnya; tidak tersusun dari pelbagai substansi yang berbeda-beda. Ia bukan materi, dan tidak pula berasal dari pelbagai unsur nonmateri. Jadi, ia tidak seperti diperlakan secara keliru oleh sebagaian para ahli agama-agama, yang menganggap bahwa Tuhan berasal dari dua unsur aktif, atau dari tiga unsur yang manunggal meskipun berbeda-beda (baik anggapan seperti itu dapat dicerna oleh akal maupun tidak). Namun yang benar adalah bahwa Allah Maha Tersucikan dari penyifatan seperti itu. Semua orang berakal, secara keseluruhan, telah bersepakat bahwa Pencipta alam semesta ini –yaitu Allah- adalah Dzat yang wajib al-wujud (yakni keberadaan-Nya merupakan sesuatu yang tidak boleh tidak, atau suatu aksioma). Secara aksiomatis pula, sifat wajib al-wujud ini mengharusakan adanya ketunggalan dalam Dzat. Karena, adanya kemajemukan dzat yang sling berbeda, niscaya mengharuskan ketergantungan kesatuannya kepada masing-masing bagian. Dan jika demikian halnya, maka kesatuan tersebut –yang dinamakan Allah dan pencipta alam- tidak akan bersifat wajib al-wujud.[3]

Tafsir Ayat Kedua

اللَّهُ الصَّمَدُ (2

  1. 1.      Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 

Dalam tafsir Qurthubi :

Pertama, Ash Shomad bermakna:

أنه السيِّد الذي يُصْمَدُ إليه في النوازل والحوائج,  الذي يصمد إليه في الحاجات

Allah adalah pihak yang dituju atau dijadikan sebagai sandaran dalam berbagai kebutuhan, Dialah yang dimaksud dalam pengharapan dan yang dibutuhkan pertolongannya dalam setiap musibah.

Kedua, Ash Shomad bermakna:

وقال قوم: الصمد: الدائم الباقي، الذي لم يزل ولا يزال.

Dan ada pula yang menyatakan, Yang kekal abadi secara terus menerus (tetap dan tetap).

Ketiga, Ash Shomad bermakna:

وقيل: تفسيره ما بعده ” لم يلد ولم يولد “.

قال أبي بن كعب: الصمد: الذي لا يلد ولا يولد، لانه ليس شئ إلا سيموت، وليس شئ يموت إلا يورث.

Ubay bin Ka’ab mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الذي لم يلد ولم يولد) yaitu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Beliau menafsirkan ayat ini dengan ayat sesudahnya dan ini tafsiran yang sangat bagus. Karena tidak ada sesuatu apapun kecuali akan mati, dan tidak ada sesuatu yang mati kecuali diwarisi. Tidak ada yang beranak kecuali dia diwarisi; dan tidak ada yang diperanakkan kecuali dia akan mati.

Keempat, Ash Shomad bermakna:

وقال علي وابن عباس أيضا وأبو وائل شقيق بن سلمة وسفيان: الصمد: هو السيد الذي قد أنتهى سودده في أنواع الشرف والسودد

Dan juga berkata Ali dan Ibnu Abbas, ash-shamad yaitu pemimpin yang telah habis/selesai keagungan dan kemuliaanNya.

Kelima, Menurut Ibnu ‘Abbas dalam riwayat lain, Said bin Jubair, al-Dhahhak, ‘Ikrimah, dan al-Hasan, kata ash-shamad adalah لا جوف له berarti Zat yang tidak lapar, tidak memiliki rongga (perut).[4]

Dalam tafsir juz amma:

Ayat ߉yJ¢Á9$ # ª!$#  Allah yang kepadaNya bergantung segala sesuatu. Kata ߉yJ¢Á9$ # menurut bahasa adalah pemimpin yang dimuliakan (atau pemuka suatu kelompok) yang selalu didatangi untuk dimintai pertolongannya, atau untuk menyelesaikan pelbagai persoalan.

Kata ߉yJ¢Á9$ # ª!$# mengandung pengertian sangat luas, yang dapat meliputi jiwa seseorang tanpa susah payah. Disertainya صمد dengan kata sandang ال, sebagai sifat dari kata Allah (yang juga disertai kata sandang seperti itu, mengingat bahwa asal kata Allah adalah Al-Ilah –penerjemah.).

Kesimpulannya, ayat ini menegaskan bahwa kebutuhan apa saja yang ada dalam wujud semesta ini tidak akan ditujukan selain kepada Allah (Ash-shamad), dan bahwa tidak seorangpun yang membutuhkan sesuatu diperkenankan menuju sesuatu –dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu– selain Allah Swt. Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa segala akibat bermuara kepadaNya, dan segala yang berlangsung di alam semesta ini, Dialah yang menjadikannya. Dan bahwa manusia, sebagai makhluk yang diberiNya kemampuan ber-ikhtiar (kebebasan memilih dan berkehendak) apabila ingin memperoleh suatu hasil dari usahanya, maka ia harus mencari dan melaksanakan cara setepatnya yang berkaitan dengan hal itu. Yaitu sesuai dengan perintah Allah kepadanya, agar meneliti, memperhatikan dan memikirkan tentang makhluk-makhlukNya. Supaya dengan demikian ia dapat mengetahui bagaimana berlangsungnya wujud yang dikaruniakan Allah Swt., dari pelbagai urutan sebab-sebabnya kepada akibat-akibatnya. Sehingga pada akhirnya ia menyandarkan segala sesuatu kepada pewujudnya pertama kali, yaitu al-amr al-ilahiy (perintah ilahi) berkaitan dengan kejadiannya.

Kata ߉yJ¢Á9$ # juga  mengisyaratkan pengertian bahwa kepada Dialah secara langsung bermuara setiap permohonan, tanpa perlu perantara atau pemberi syafaat. Disamping itu, Allah Swt. Adalah Ash-Shamad dalam menentukan batasan-batasan umum bagi setiap amalan, dan menetapkan dasar-dasar hukum syariat. Maka wajiblah mengembalikan setiap perbedaan pendapat kepada kandungan wahyu yang diturunkan olehNya, dan tidak diperkenankan merujuk kepada pendapat siapapun selainnya, sepanjang hal itu telah diungkap secara gamblang dalam KitabNya.[5]

Tafsir Ayat Ketiga

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

Dalam tafsir Al-Qurthubi

لم يلد ولم يولد  :ليس شئ يولد إلا سيموت، وليس شئ يموت إلا سيورث، وأن الله تعالى لا يموت ولا يورث.

Tidak ada yang diperanakkan kecuali dia akan mati, dan segala sesuatu yang akan meninggal kecuali sesuatu yang diwariskan dan sesungguhnya Allah tidak meninggal dan tidak pula diwariskan atau mewariskan.[6]

Dalam tafsir Juz Amma:

Ayat  ‰s9qム öNs9ur $Î#tƒ  öNs9 Tiada beranak dan tiada diperanakkan. Maha tersucikan Allah Swt. Daripada beranak. Ayat ini menunjuk kepada naifnya pendapat orang-orang tertentu yang mengatakan bahwa Allah mempunyai putra atau putri-putri. Mereka itu adalah kaum musyrik dari bangsa Arab, Hindu, Nasrani dan sebagainya. Ayat ini menjelaskan kepada mereka bahwa untuk mempunyai seorang anak, diperlukan adanya proses beranak atau melahirkan. (menggunakan kata ‘memancarkan’ dan sebagainya sebagai pengganti kata ‘beranak’ tidak mengubah makna tersebut). Sedangkan proses melahirkan hanya dapat dialami oleh makhluk hidup yang mempunyai watak dan tabiat. Dan yang demikian itu hanya ada pada sesuatu yang terbentuk dari pelbagai elemen, yang pada saatnya akan mengalami kefanaan. Sedangkan Allah Swt. Maha tersucikan dari keadaan seperti itu.

Ayat ‰s9qム öNs9ur dan tiada diperanakkan. Firman Allah ini menyanggah pendapat menyesatkan dari sebagian pemeluk pelbagai agama tertentu, yang menyatakan bahwa seorang ‘putra Tuhan’ adalah Tuhan juga: kepadanya ditujukan penyembahan seperti kepada Tuhan, dan ia di jadikan tumpuan permohonan seperti yang berlaku kepada Tuhan juga. Bahkan kaum ekstrem dari mereka tidak segan-segan menyebut ibundanya sebagai ‘Ibunda Suci dari Tuhan’. Padahal seorang yang diperanakkan adalah termasuk sesuatu yang hadits (yang baru tercipta, bukan sesuatu yang azali –penerj.).[7]

Tafsir Ayat Keempat

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Dalam tafsir Al-Qurthubi

” ولم يكن له كفوا أحد ” : قال: لم يكن له شبيه ولا عدل، وليس كمثله شئ.

(ولم يكن له كفوا أحد) أي لم يكن له مثلا أحد.

       Bahwa tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak ada sesuatu yang bisa menyamaiNya. Allah Yang Maha Esa itu tidak ada yang menandingi atau menyamai-Nya.[8]

Dalam tafsir Juz Amma:

Ayat ‰ymr&  #·qàÿà2 ¼ã&©!  `ä3tƒNs9ur dan tak ada apapun(atau siapapun)yang setara denganNya. Kata kufu’, berarti sesuatu yang setara dan seimbang dengan sesuatu yang lainnya, dalam perbuatan dan kemampuan. firmanNya ini untuk menyanggah kepercayaan melenceng dari sebagian orang yang menganggap adanya lawan yang setara dan seimbang bagi Allah, yang senantiasa bertentangan denganNya dalam tindakan-tindakanNya. Kepercayaan seperti ini, hampir sama dengan kepercayaan sebagian penyembah berhala berkenaan dengan syetan, misalnya. Dengan demikian, surah ini menafikan segala jenis kemusyrikan dan penyekutuan, dan menegaskan semua dasar tauhid dan tanzib.[9]

Perbedaan antara tafsir qurthubi dan tafsir Juz Amma Muhammad Abduh:

1.      Tafsir Juz Amma Muhammad Abduh:

– Menggunakan metode Tafsir bi Ar-Ra’yi, tafsir berdasarkan pikiran yang lebih mengandalkan ijtihad dan tidak didasarkan pada riwayat sahabat dan tabi’in. Sandaran mereka adalah bahasa arab, budaya arab yang terkandung di dalamnya, pengetahuan tentang gaya bahasa sehari-hari dan kesadaran akan pentingnya sains yang amat diperlukan dalam menafsirkan Al-Quran .

– Lebih mendalam dalam membahas kandungan makna

– Dalam membahas Ash-Shomad, Abduh lebih merinci ketergantungan kita pada Allah juga disertai dengan kemampuan kita untuk berikhtiar yang juga telah diberi-Nya. Dan dijelaskan pula dalam tafsir ini Ash Shomad mempunyai makna bahwa Dialah secara langsung bermuara setiap permohonan, tanpa perlu perantara atau pemberi syafaat.

2.      tafsir qurthubi:

– Menggunakan metode Tafsir bir Riwayah, tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadis. Lebih banyak dipenuhi dengan riwayat hadis dan jarang menaruh pemikirannya.

– Pembahasan lebih mendalam pada fadlilah-fadlilah surat Al-Ikhlas

– Dalam membahas Ash Shomad, lebih mengacu pada kepasrahan kita kepada Allah, hanya kepada Dia disandarkan segala hajat. Pembahasannya tanpa banyak perincian.

 


[1] Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, (Bandung: Mizan,1998), hal.363-364

[2] Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an XX/245,( Beirut: Dar al-Fikr, 1995), hal. 218

[3] Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, hal. 365

[4] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an, hal. 219

[5] Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, hal. 366-367

[6] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an, hal. 220

[7] Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, hal. 368

[8] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an, hal. 220

[9] Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, hal. 369

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: